Karier
Kartini Masa Kini, Jangan Anda Lupa Diri
(Refleksi peringatan Hari Kartini)
oleh: Maria Vianney
(Refleksi peringatan Hari Kartini)
oleh: Maria Vianney
|
S
|
etiap tanggal 21 April, Indonesia selalu memperingati Hari
Kartini. Hari itu layaknya menjadi perayaan tahunan yang selalu diperingati
dari generasi ke generasi. Dan kita, wanita Indonesia yang sejatinya sebagai
kaum penerus Kartini, sudah seberapa jauhkah mengenalnya dan memaknai hasil
perjuangan beliau? Kartini yang merupakan salah seorang tokoh pejuang wanita yang
menjadikan Indonesia bangga. Ibu Kartini merupakan perempuan kelahiran Jepara
dari keturunan kelas bangsawan di tanah Jawa. Beliau dikenal sebagai wanita
yang rajin, cerdas, mandiri, beriman, berdaya guna, serta mencintai
lingkungannya. Kemauan dan tekadnya yang tinggi membuatnya menjadi wanita yang
serba bisa dan serba tahu yang menjadi tokoh panutan wanita Indonesia.
Kartini pada zamannya, merupakan tokoh yang disegani. Beliau
tidak merasa rendah diri sekalipun pada masa itu hanya ada beberapa putra-putri
pertiwi yang bisa mengenyam pendidikan bersama anak-anak Belanda. Melihat
kenyataan itu, Kartini tergerak untuk memperjuangkan nasib para wanita
negerinya yang terbelakang dan terjajah, terutama untuk bidang pendidikan. Para
kaum wanita pada masa itu tidak boleh mengenyam pendidikan, kecuali bagi mereka
putri-putri keturunan bangsawan. Wanita hanya dianggap sebagai konco wingking yang kerjanya hanya di
belakang.
Lain halnya dengan masa kini yang sudah lebih maju dan lebih
berkembang dibandingkan zaman dulu. Di era ini, kesetaraan gender antara wanita
dan pria sangatlah memungkinkan wanita untuk bergerak lebih maju dibandingkan
pada masa dulu. Seperti yang tercantum dalam UUD 1945 pasal 28 C ayat (1) “Setiap
orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapat
pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan
budaya, demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia”,
serta pasal 28 I ayat (2) yang
berbunyi “Setiap orang berhak bebas atas perlakuan yang bersifat
diskriminatif atas dasar apa pun dan berhak mendapatkan perlindungan terhadap
perlakuan yang bersifat diskriminatif itu”,
sebagai manusia dan warga negara
Indonesia, tentu saja wanita juga memiliki hak asasi yang sama dengan kaum
pria. (Pasal
28 UUD 1945 http://ardithaanggun.blogspot.com/2010/03/pasal-28-uud-1945.html)
Kaum wanita pada masa kini bisa berkarya di pelbagai bidang.
Banyak wanita yang telah berkarya dan berkarir bahkan hampir di berbagai bidang
dan instansi-instansi penting di negara kita. Di bidang olahraga, ada banyak
atlet Indonesia seperti Susi Susanti, Maria Kristin, dan masih ada banyak
putri-putri Indonesia yang telah berprestasi dan mengharumkan nama bangsa
bahkan di kancah internasional. Menjadi seorang pemimpin suatu kelompok atau
negara pun, wanita juga mampu. Contohnya, Ibu Megawati Soekarno Putri yang
pernah Presiden perempuan pertama di Indonesia. Beliau berani melakukan
perubahan besar dalam sejarah Indonesia. Dan masih banyak wanita Indonesia
lainnya yang telah berani melangkah maju, ikut terlibat aktif dalam berbagai
bidang dan berani melakukan aksi-aksi dobrakan yang menunjukkan bahwa wanita
juga mampu berkarya.
Ironisnya, wanita sebagai Kartini masa kini hampir bahkan
cenderung lupa diri, lupa akan perannya bahkan dalam keluarga serta kodratnya
sebagai seorang wanita. Mereka terlalu asyik dengan kesibukan-kesibukan dan kesuksesan
karir yang telah mereka raih. Lalu apa gunanya kesuksesan dan karir yang
gemilang bila kehidupan mereka sendiri dalam keluarga menjadi berantakan
karenanya?
Tentu saja wanita boleh memilih jalan hidupnya masing-masing
serta bidang yang akan ditekuninya. Ada yang memilih untuk bekerja di kantor,
di dunia perbankan, di dunia bisnis, modeling dan fotografi, dan masih banyak
hal lainnya. Namun pada umumnya, para wanita akan memiliki keluarga dan
memiliki tanggung jawab sebagai ibu rumah tangga bagi keluarganya tersebut.
Sebagai ibu, wanita adalah guru pertama bagi anak-anaknya. Ibu adalah sosok penting dalam tahap
perkembangan anak, terutama bagi anak usia dini, mereka lebih cenderung dekat
pada sang ibu. Apa yang akan terjadi bila ibu tersebut terlalu sibuk atau
mungkin menyibukkan dirinya dengan segala macam urusan karir dan akhirnya
menelantarkan anak serta keluarganya? Hal ini menjadi suatu keprihatinan besar
bagi kita.
Kartini telah membawa perubahan besar kaum wanita. Oleh
karena itu, janganlah kita menyia-nyiakan peluang yang telah diciptakan yang
membuat kita menjadi wanita-wanita beruntung masa kini. Namun, bukan berarti
kita boleh lupa diri dan menenggelamkan diri dengan karir yang dijalani. Hal
yang tidak boleh diabaikan juga adalah jangan sampai menelantarkan keluarga, terutama
suami dan anak-anak mereka. Menelantarkan keluarga bisa berujung pada
perpecahan dalam keluarga dan pada akhitnya, anak-anaklah yang akan menjadi
korbannya dari pengabaian sosok ibu terhadap keluarganya. Anne Avantie, seorang
designer ternama Indonesia, mengatakan bahwa seorang Kartini modern tidak
berarti melupakan kodratnya sebagai perempuan, karena semangat Kartini pun
tidak menghilangkan atau mengecilkan arti dan tugas menjadi seorang ibu yang
baik bagi keluarganya dengan menjaga
keseimbangan antara karir dan keluarga, pekerjaan dan komunikasi yang baik
dalam
keluarganya.(http://female.kompas.com/read/2012/04/20/14412593/Kartini.Modern.Jangan.Lupa.Tugas.sebagai.Ibu)
keluarganya.(http://female.kompas.com/read/2012/04/20/14412593/Kartini.Modern.Jangan.Lupa.Tugas.sebagai.Ibu)
Ia sebagai seorang wanita haruslah menyadari keterbatasan
dan tidak mengejar karier semata sehingga mengabaikan keluarganya. Mungkin akan
lebih baik bila wanita lebih mementingkan, memperhatikan dan berfokus pada
perannya dalam keluarga dan meninggalkan dunia karier sejenak. Terutama bagi
kaum ibu yang memiliki anak-anak hal ini sangat penting untuk diperhatikan. Pada
tahap perkembangan awal anak bahkan untuk beberapa tahap selanjutnya, ibu
memegang peranan yang sangat penting. Hal ini dikarenakan ibu pada dasarnya
adalah orang yang paling dekat dengan anak, ibulah yang melahirkan anak-anak.
Anak-anak akan cenderung mendengarkan apa yang dinasehatkan seorang ibu
ketimbang harus mendengarkan omelan-omelan belaka. Oleh karena itu, seorang ibu
haruslah memberikan perhatian yang cukup bagi anak-anak-nya. Pada dasarnya
memenuhi kebutuhannya akan perhatian dan kasih sayang lebih dibutuhkan dari
pada sekedar pemenuhan kebutuhan secara material. Membuka usaha sendiri di
rumah, mungkin bisa menjadi salah satu jalan untuk tetap bisa berkarya namun
tidak mengabaikan bahkan menelantarkan keluarga. Selain itu, dengan begitu Anda
juga membuka peluang kerja bagi orang lain.
Sebagai wanita, ia juga harus mampu
bersikap kritis terhadap hal-hal yang
terjadi disekitarnya, bukan hanya sekedar menerima tanpa ada tanggapan terhadap
hal-hal yang terjadi sekalipun hal itu negatif. Ia harus berpikir cerdas,
mandiri, peka terhadap situasi dan keadaan sosial, mencintai lingkungannya. Dan
yang tak boleh terlupakan yakni beriman pada Tuhan Yang Maha Esa. Memang perputaran
zaman tidak akan pernah membuat wanita menyamai kedudukan laki-laki sepenuhnya. Wanita tetaplah akan menjadi sosok wanita
dengan segala keterbatasan, kemampuan dan kewajibannya sesuai dengan kodratnya. Oleh karena itu, wahai para Kartini, janganlah
lupa diri dan terbuai oleh karier yang telah dicapai, tetapi harus ingat akan tugas
dan perannya dalam keluarga. Wanita memang boleh berkarir, namun janganlah lupa
akan jati dirinya dan peran yang ia pegang dalam keluarga, masyarakat, dan juga bangsamu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar