Senin, 02 Mei 2016

Karier Kartini Masa Kini, Jangan Anda Lupa Diri
(Refleksi peringatan Hari Kartini)
oleh: Maria Vianney

S
 etiap tanggal 21 April, Indonesia selalu memperingati Hari Kartini. Hari itu layaknya menjadi perayaan tahunan yang selalu diperingati dari generasi ke generasi. Dan kita, wanita Indonesia yang sejatinya sebagai kaum penerus Kartini, sudah seberapa jauhkah mengenalnya dan memaknai hasil perjuangan beliau? Kartini yang merupakan salah seorang tokoh pejuang wanita yang menjadikan Indonesia bangga. Ibu Kartini merupakan perempuan kelahiran Jepara dari keturunan kelas bangsawan di tanah Jawa. Beliau dikenal sebagai wanita yang rajin, cerdas, mandiri, beriman, berdaya guna, serta mencintai lingkungannya. Kemauan dan tekadnya yang tinggi membuatnya menjadi wanita yang serba bisa dan serba tahu yang menjadi tokoh panutan wanita Indonesia.
Kartini pada zamannya, merupakan tokoh yang disegani. Beliau tidak merasa rendah diri sekalipun pada masa itu hanya ada beberapa putra-putri pertiwi yang bisa mengenyam pendidikan bersama anak-anak Belanda. Melihat kenyataan itu, Kartini tergerak untuk memperjuangkan nasib para wanita negerinya yang terbelakang dan terjajah, terutama untuk bidang pendidikan. Para kaum wanita pada masa itu tidak boleh mengenyam pendidikan, kecuali bagi mereka putri-putri keturunan bangsawan. Wanita hanya dianggap sebagai konco wingking yang kerjanya hanya di belakang.
Lain halnya dengan masa kini yang sudah lebih maju dan lebih berkembang dibandingkan zaman dulu. Di era ini, kesetaraan gender antara wanita dan pria sangatlah memungkinkan wanita untuk bergerak lebih maju dibandingkan pada masa dulu. Seperti yang tercantum dalam UUD 1945 pasal 28 C ayat (1) “Setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapat pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya, demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia”, serta pasal 28 I ayat (2) yang berbunyi  Setiap orang berhak bebas atas perlakuan yang bersifat diskriminatif atas dasar apa pun dan berhak mendapatkan perlindungan terhadap perlakuan yang bersifat diskriminatif itu, sebagai manusia dan warga negara Indonesia, tentu saja wanita juga memiliki hak asasi yang sama dengan kaum pria. (Pasal 28 UUD 1945 http://ardithaanggun.blogspot.com/2010/03/pasal-28-uud-1945.html)
Kaum wanita pada masa kini bisa berkarya di pelbagai bidang. Banyak wanita yang telah berkarya dan berkarir bahkan hampir di berbagai bidang dan instansi-instansi penting di negara kita. Di bidang olahraga, ada banyak atlet Indonesia seperti Susi Susanti, Maria Kristin, dan masih ada banyak putri-putri Indonesia yang telah berprestasi dan mengharumkan nama bangsa bahkan di kancah internasional. Menjadi seorang pemimpin suatu kelompok atau negara pun, wanita juga mampu. Contohnya, Ibu Megawati Soekarno Putri yang pernah Presiden perempuan pertama di Indonesia. Beliau berani melakukan perubahan besar dalam sejarah Indonesia. Dan masih banyak wanita Indonesia lainnya yang telah berani melangkah maju, ikut terlibat aktif dalam berbagai bidang dan berani melakukan aksi-aksi dobrakan yang menunjukkan bahwa wanita juga mampu berkarya.
Ironisnya, wanita sebagai Kartini masa kini hampir bahkan cenderung lupa diri, lupa akan perannya bahkan dalam keluarga serta kodratnya sebagai seorang wanita. Mereka terlalu asyik dengan kesibukan-kesibukan dan kesuksesan karir yang telah mereka raih. Lalu apa gunanya kesuksesan dan karir yang gemilang bila kehidupan mereka sendiri dalam keluarga menjadi berantakan karenanya?
Tentu saja wanita boleh memilih jalan hidupnya masing-masing serta bidang yang akan ditekuninya. Ada yang memilih untuk bekerja di kantor, di dunia perbankan, di dunia bisnis, modeling dan fotografi, dan masih banyak hal lainnya. Namun pada umumnya, para wanita akan memiliki keluarga dan memiliki tanggung jawab sebagai ibu rumah tangga bagi keluarganya tersebut. Sebagai ibu, wanita adalah guru pertama bagi anak-anaknya.  Ibu adalah sosok penting dalam tahap perkembangan anak, terutama bagi anak usia dini, mereka lebih cenderung dekat pada sang ibu. Apa yang akan terjadi bila ibu tersebut terlalu sibuk atau mungkin menyibukkan dirinya dengan segala macam urusan karir dan akhirnya menelantarkan anak serta keluarganya? Hal ini menjadi suatu keprihatinan besar bagi kita.
Kartini telah membawa perubahan besar kaum wanita. Oleh karena itu, janganlah kita menyia-nyiakan peluang yang telah diciptakan yang membuat kita menjadi wanita-wanita beruntung masa kini. Namun, bukan berarti kita boleh lupa diri dan menenggelamkan diri dengan karir yang dijalani. Hal yang tidak boleh diabaikan juga adalah jangan sampai menelantarkan keluarga, terutama suami dan anak-anak mereka. Menelantarkan keluarga bisa berujung pada perpecahan dalam keluarga dan pada akhitnya, anak-anaklah yang akan menjadi korbannya dari pengabaian sosok ibu terhadap keluarganya. Anne Avantie, seorang designer ternama Indonesia, mengatakan bahwa seorang Kartini modern tidak berarti melupakan kodratnya sebagai perempuan, karena semangat Kartini pun tidak menghilangkan atau mengecilkan arti dan tugas menjadi seorang ibu yang baik  bagi keluarganya dengan menjaga keseimbangan antara karir dan keluarga, pekerjaan dan komunikasi yang baik dalam
keluarganya.(
http://female.kompas.com/read/2012/04/20/14412593/Kartini.Modern.Jangan.Lupa.Tugas.sebagai.Ibu)
Ia sebagai seorang wanita haruslah menyadari keterbatasan dan tidak mengejar karier semata sehingga mengabaikan keluarganya. Mungkin akan lebih baik bila wanita lebih mementingkan, memperhatikan dan berfokus pada perannya dalam keluarga dan meninggalkan dunia karier sejenak. Terutama bagi kaum ibu yang memiliki anak-anak hal ini sangat penting untuk diperhatikan. Pada tahap perkembangan awal anak bahkan untuk beberapa tahap selanjutnya, ibu memegang peranan yang sangat penting. Hal ini dikarenakan ibu pada dasarnya adalah orang yang paling dekat dengan anak, ibulah yang melahirkan anak-anak. Anak-anak akan cenderung mendengarkan apa yang dinasehatkan seorang ibu ketimbang harus mendengarkan omelan-omelan belaka. Oleh karena itu, seorang ibu haruslah memberikan perhatian yang cukup bagi anak-anak-nya. Pada dasarnya memenuhi kebutuhannya akan perhatian dan kasih sayang lebih dibutuhkan dari pada sekedar pemenuhan kebutuhan secara material. Membuka usaha sendiri di rumah, mungkin bisa menjadi salah satu jalan untuk tetap bisa berkarya namun tidak mengabaikan bahkan menelantarkan keluarga. Selain itu, dengan begitu Anda juga membuka peluang kerja bagi orang lain. 
Sebagai wanita, ia juga harus mampu bersikap  kritis terhadap hal-hal yang terjadi disekitarnya, bukan hanya sekedar menerima tanpa ada tanggapan terhadap hal-hal yang terjadi sekalipun hal itu negatif. Ia harus berpikir cerdas, mandiri, peka terhadap situasi dan keadaan sosial, mencintai lingkungannya. Dan yang tak boleh terlupakan yakni beriman pada Tuhan Yang Maha Esa. Memang perputaran zaman tidak akan pernah membuat wanita menyamai kedudukan laki-laki sepenuhnya.  Wanita tetaplah akan menjadi sosok wanita dengan segala keterbatasan, kemampuan dan kewajibannya sesuai dengan kodratnya.  Oleh karena itu, wahai para Kartini, janganlah lupa diri dan terbuai oleh karier yang telah dicapai, tetapi harus ingat akan tugas dan perannya dalam keluarga. Wanita memang boleh berkarir, namun janganlah lupa akan jati dirinya dan peran yang ia pegang dalam keluarga, masyarakat, dan juga bangsamu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar